Pagi yang cerah, mengawali aktivitas baru Rama di bangku Sekolah Menengah Pertama. Hari ini adalah hari pertama pertama masa orientasi siswa di sebuah Sekolah Menengah Pertama. Awal yang buruk bagi Rama, karena dia datang terlambat ke sekolah. Atas keterlambatannya itu, dia harus menerima hukuman dari seniornya.
“ Hei,dek!!! Jam berapa ini? Belum ada sehari sudah melanggar peraturan sekolah. Mau jadi apa kamu nanti? ”. Tanya salah satu senior OSIS SMPN 1 Rengel.
“Maaf kak,saya tadi bangun kesiangan.” Jawab Rama.
Serunya MOS hari itu kembali terulang ketika Rama dimarahi oleh senior OSIS.
“Kamu tahu kesalahmu?” Tanya Lya, salah satu senior OSIS.
“Tahu kak! Saya tidak membawa ID Card.” Jawab Rama dengan tenang.
“kalau sudah tahu kenapa tidak dibawa? Kamu belum ada 24 jam sudah melakukan kesalahan. Mau jadi apa kamu nanti?” Tegas Lya dengan suara lantang.
“Maaf kak,tadi saya terburu – buru sehingga saya lupa membawanya” sanggah Rama dengan suara yang sangat pelan.
“Karena kamu sudah melakukan kesalahan, kamu akan menerima hukuman. Sekarang kamu rayu salah satu cewek di kelas ini.” Tegas Lya.
Tak terasa MOS telah selesai dan tiba saatnya memulai pelajaran pertama. Hari pertama pelajaran diisi dengan memilih pengurus kelas oleh Bapak Slamet yang perupakan wali kelas VII-F.
Pak Slamet,”Anak – anak, pada kesempatan kali ini kita akan memilih ketua kelas VII-F. Oleh karena itu, siapa yang bersedia mencalonkan diri sebagai ketua kelas?”
Ketika Pak Slamet bertanya, semua siswa VII-F terdiam sejenak. Setelah itu, semua siswa mencalonkan Rama dan salah satu teman lain. Sebut saja namanya Bela.
Semua siswa,”Rama dan Bela,pak!!”
Pak Slamet,”ya . . sudah, sekarang tulislah nama yang kalian pilih sebagai ketua kelas di selembar kertas. Setelah itu kumpulkan di depan.”
Pemilihan ketua kelas pun selesai. Kala itu Rama terpilih sebagai ketua kelas VII-F. Mungkin inilah pengalaman pertama dia sebagai ketua kelas. Selama memimpin Rama sangat tegas sehingga pembawaannya sangat keras, sehingga banyak teman - temannya yang takut dengannya. Suatu ketika, ada temannya yang ramai sehingga membuat dia dimarahi oleh guru yang mengajar di kelas sebelah.
“Braakkkk”,terdengar suara Rama memukul meja.
“Hei,semuanya diam!!!” Rama marah kepada temannya.
Hingga akhirnya dia melalakukan sebuah kesalahan. Dia memukul temannya yang ramai karena sudah diberi tahu berkali – kali tidak digubris.
Dengan seketika temannya tersebut melaporkannya kepada guru BP. Setelah itu Rama di panggil dan di skors oleh guru BP. Sehari setelah dia diskors oleh guru BP, dia menyadari kesalahannya dan membuat dia menyadari akan kesalahannya.
Beberapa bulan setelah dia duduk di bangku SMP. Rama terpilih sebagai pengurus OSIS SMP tersebut. Seminggu setelah pelantikan pengurus OSIS, diadakan latihan dasar kepemimpinan. Saat LDK tersebut Rama berkenalan dengan salah satu pengurus OSIS, sebut saja namanya Aprilia.
“Assalamu’alaikum,kalau boleh tahu siapa kamu??” tanya Lya kepada Rama.
“Wa’alaikumsalam. Aku Rama, anggota sie. Pendidikan politik. Kalau kamu siapa?” jawab Rama dengan sopannya.
“Aku Lya, bendahara OSIS. Kamu kelas apa?” tanya Lya kembali.
“Aku kelas VII-F. Kalau kamu? Kelas VII-A kan? Jawab Rama kembali.
“Ya, kok tahu? Hehehehe . . “. Jawab Lya dengan ekspresi agak malu.
Semenjak kenal dengan Aprilia, Rama menjadi seorang laki – laki yang lebih religius. Karena biasanya dia selalu malas dalam melaksanakan ibadah dan lebih suka melakukan hal – hal yang bersifat duniawi.
Menjelang ujian semester Rama kembali mengulangi kesalahannya. Kali ini dia berkelahi dengan temannya, sebut saja namanya Wisko. Perkelahian itu dipicu karena Wisko tidak memperhatikan pengumuman yang disampaikan oleh Rama.
“Wis,kenapa kamu tidak memperhatikan?” Rama memperingatkan Wisko.
“Terserah aku dong! Emangnya kamu siapa aku?” jawab Wisko dengan agak meledek.
“Maksud kamu apa? Ngajak berantem ta? Sanggah Rama dengan suara agak keras dan sedikit marah.
“hahahaha . . “ Wisko tertawa.
“Praakkkk” terdengar suara pukulan yang dilayangkan Rama ke mulut Wisko.
Dalam perkelahian itu Wisko bibirnya berdarah karena pukulan dari Rama. Dengan spontan, Wisko melaporkan Rama kepada guru BP. sampai akhirnya dia kembali dihukum oleh guru BP. kali ini orang tuanya di panggil oleh pihak sekolah. Setelah orang tuanya mengetahui, orang tuanya sempat kecewa atas sikap dari Rama. tetapi, orang tuanya hanya memperingatkan dia saja. Lama kelamaan Rama merasa sungkan dan kasihan kepada kedua orang tuanya.
Tak terasa ujian semester pun berlalu, tiba saatnya pembagian raport. Melihat nilai dan peringkat raportnya, orang tua Rama sedikit merasa bangga kepadanya. Meskipun dalam hati orang tuanya merasa kecewa atas semua perilaku yang dilakukan oleh Rama. Kali ini dia menjadi sedikit pendiam dari sebelumnya, dan menjadi anak yang lebih rajin. Tak ada kejadian buruk pada semester kali ini, justru banyak kejadian yang positif pada semester ini. Awal semester Rama mewakili sekolahnya dalam acara pertandingan bola voli di tingkat kabupaten bersama 11 temannya. pada pertandingan pertama, langkah Rama dan kawan – kawan sempat terhalang oleh hujan deras yang mengguyur GOR Rangga Jaya Anoraga Tuban. Kondisi lapangan yang becek tidak membuat semangat Rama dan teman-temannya surut. Hasilnya mereka bisa mengalahkan juara tahun lalu dan berhasil melaju ke babak selanjutnya.
Perjuanagan Rama dan teman-temannya terus berlanjut, hingga akhirnya mereka berhasil melangkah hingga partai puncak juara. Dengan keberhasilan tersebut semakin membuat Rama semakin bersemangat dan sadar akan semua kesalahannya yang pernah ia lakukan. Pada pertengahan semester Rama juga mengikuti Jambore Nasional di Sumedang Jawa barat dengan Ketiga temannya yaitu Astyo, Zeda, dan Sinta. Sepulang dari Jambore Nasional, Rama semakin bersemangat dalam bersekolah. Rama yang dulu menjadi anak yang nakal dan selalu berbuat jelek sekarang berubah menjadi anak yang berbudi baik.
Liburan kenaikan kelas pun telah tiba, waktunya mempersiapkan kegiatan masa orientasi siswa tahun ajaran 2007/2008. MOS kali ini terasa seru, karena Rama dan kawan – kawan bisa memberikan pengalaman – pengalaman mereka kepada peserta MOS. Kala itu, Rama ditunjuk sebagai pendamping gugus VII-C. Hari pertama MOS pun tiba.
“Assalau’alaikum, pagi adik – adik?” Rama memberikan salam kepada peserta MOS.
“Wa’alaikumsalam, kak!” jawab seluruh peserta MOS.
“Pada kesempatan kali ini saya ingin kalian memperkenalkan diri kepada teman – teman kalian.”
Setelah semua memperkenalkan diri, acara MOS dilanjutkan dengan materi pengembangan budi pekerti dan akhlak oleh bapak dan ibu guru. Tiga hari acara MOS tak terasa telah selesai. Seperti biasa,hari pertama masuk sekolah diisi dengan memilih pengurus kelas. Kala itu, pemilihan pengurus kelas dilakukan oleh pengurus OSIS yang menjadi pendamping gugus setiap kelas.
“Adik – adik, pagi ini kita akan memilih ketua kelas VII-C. Siapa yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua kelas?”. Tanya Rama kepada siswa VII-C.
“Ayu, kak!” dengan serempak siswa VII-C menunjuk Ayu sebagai ketua kelas.
“Apakah ada lagi calon ketua kelas lagi?”
“Lisa dan Bima, Kak!!”.
Akhirnya, ketiga anak tadi dicalonkan menjadi ketua kelas VII-C. Setelah penghitungan suara selesai, Ayu lah yang akhirnya terpilih sebagai ketua kelas.
Aktivitas Rama kembali seperti biasa dengan pribadi yang lebih baik. Waktu berterus berjalan, sampai akhirnya tiba saatnya pergantian kepengurusan OSIS. Rama menilai bahwa dirinya lah yang akan dikeluarkan dari OSIS karena kenakalannya tahun lalu. Tetapi, anggapan itu sirna seketika sang ketua OSIS baru membacakan susunan kepengurusan OSIS baru dan dia terpilih sebagai ketua sie. Pendidikan politik sekaligus sebagai ketua DKG. Seminggu setelah pemilihan, diadakan latihan dasar kepemimpinan siswa. Saat sesi perkenalan, Rama mendapat bagian untuk berkenalan dengan Ayu.
“Nama kamu siapa,dek?” Tanya Rama
“Ayu,mas! La,kamu kan yang dulu jadi pembina gugusku kan?” jawab Ayu
“Iya,dek. Kalau rumah kamu mana?”
“Jalan Pereng Barat,mas! Kalau mas sendiri?”
“Lho . . berarti kamu tetangga aku dong? Rumahku Jalan Geneng Agung.”
“Waduhh . . Iya,mas! La kok baru tau sekarang ya???”
Percakapan mereka sangat asyik. Dan sejak saat itulah mereka menjadi teman dekat. Bahkan, setiap ada kegiatan mereka selalu berangkat bersama karena letak rumah mereka yang lumayan dekat. Kedekatan mereka kembali berlanjut ketika Rama, Ayu, dan teman-temannya mengikuti lomba paduan suara tingkat Kabupaten. Kedekatan mereka saat itu membuat teman-temannya menjadi curiga kepada mereka. Malam penampilan pun dimulai. Tim paduan suara dari sekolah Rama mulai menyanyikan sebuah lagu wajib berjudul “Gugur Bunga”, karena pada saat itu merupakan hari kesaktian pancasila. Tak terasa acara perlombaan telah selesai. Sorak-sorai dari Tim paduan suara dari sekolah Rama, ketika mereka terpilih sebagai juara dua pada ajang ini.
Waktu terus berjalan, sampai akhirnya ujian semester satu telah di mulai. Berbeda dengan ujian – ujian sebelumnya. Kali ini Rama lebih serius dalam mempersiapkan ujian semester ini. Dia merasa telah mempunyai sahabat yang selalu mendukung dan memberinya semangat saat dia merasa lelah. Ternyata sahabatnya itu telah merubah Rama menjadi lebih baik. Hasilnya Rama berhasil mempersembahkan prestasi yang memuaskan dan nila-nilai yang sangat bagus bagi kedua orang tuanya. Liburan semester telah menanti dan kecuali bagi Rama dan Ayu. Karena pada liburan smester ini mereka dan dua temannya yaitu Rina dan Bayu, akan menjadi kontingen Kabupaten Tuban dalam ajang Jambore Daerah di sebuah hutan di Jombang. Sungguh liburan yang sangat mengasyikkan.
Waktu liburan semester telah usai. Saatnya mempersiapkan memester ini menjadi lebih baik lagi. Bupati Cup cabang bola voli kembali bergulir. Kali ini barisan tim dari sekolah Rama berubah dari sebelumnya, karena para pemain kebanyakan sudah dibangku kelas tiga yang sebentar lagi akan melaksanakan ujian nasional. Tetapi, hal tersebut tidak membuat mereka manjadi tim yang lemah. Mereka kembali mencapai partai final pada perhelatan tahunan ini. Hari pertandingan partai final telah datang. Dengan membawa suporter yang lumayan banyak, mereka tampil dengan penuh semangat dan tak terkecuali bagi Rama. dukungan dari sahabatnya tersebut membuat penampilan dia menjadi sangat hidup. Dan hasilnya kembali diboyong ke sekolahnya untuk kedua kalinya.
Prestasi – prestasi Rama tidak berhenti sampai disitu. Beberapa minggu kemudian dia kembali menjadi wakil sekolahnya bersama teman-temannya dalam lomba bulutangkis tingkat regional Tuban. Tetapi, kali ini takdir kurang berpihak pada dirinya. Pada babak semifinal dia berjumpa dengan teman kecilnya, Emas. Dengan pertarungan yang cukup panjang Rama harus mengakui keunggulan Emas. Dan dia harus puas di peringkat ke empat. Aktivitas Rama kembali seperti biasa. Dua tahun setelah dia di bangku sekolah mengengah pertama sudah membuat dia berbeda dari sebelumnya. Rama yang dulu terkenal sering berkelahi dengan temannya, sekarang berubah menjadi anak yang agak baik.
Memasuki awal semester Rama bersama teman-temannya mengikuti Jambore Daerah di sebuah air terjun di Singgahan. Banyak sekali kegiatan yang sangat seru pada Jambore kali ini. Pada hari pertama Rama dan Ayu harus berjalan sekitar delapan kilometer untuk melakukan sebuah penjelajahan. Tetapi, jarak yang lumayan jauh tersebut tidak membuat mereka lelah. Karena setiap posnya banyak sekali game yang sangat seru. Saat di tengah perjalannan mereka tersesat, karena tidak bisa menemukan sandi arah.
“Ma,kita dimana ini?” tanya Ayu dengan perasaan takut.
“Santai aja yu! Kita pasti akan menemukan sandinya.” Jawab Rama dengan perasaan tenang
“Hah,jangan bercanda kamu ma!! Kalau nyasar beneran gimana?” sanggah Ayu yang mulai ketakutan.
“sudahlah, jangan Panik! Yang penting kita cari dulu.”
Ketakutan itu sirna setelah mereka mengetaui ternyata mereka hanya dikerjain oleh panitia Jambore Daerah saja. Satu minggu telah berlalu, Jambore Daerah telah usai. Itulah kegiatan tekhir Rama sebagai dewan kerja penggalang, karena dia sudah kelas hampir kelas tiga. Tidak terasa Rama sudah kelas tiga. Dengan berat hati dia harus meninggalkan semua aktivitasnya selama ini untuk mempersiapkan ujian nasional. Waktu terus berjalan, Rama semakin giat dalam mempersiapkan ujiannya kali ini. Dengan dukungan sahabatnya yaitu Ayu, dia terus berlatih untuk menghadapi ujian nasional pada tahun ini.
Hari ujian yang dinanti telah tiba. Dengan semua persiapan yang telah dilakukan dengan baik, dia mulai mengerjakan soal demi soal. Empat hari ujian tak terasa telah selesai. Rama sempat bingung dengan pilihan sekolah yang akan dia tuju. Beberapa hari setelah ujian nasional, sebuah sekolah faforit di Tuban menempelkan pamflet di sekolahnya. Ya,sebuah pamflet yang bertuliskan “Pendaftaran Siswa Baru SMAN 1 Tuban”. Dengan senang dia membaca satu per satu kata yang tertulis di pamflet itu. Pilihan kelompok kelasnya hanya dua, RSBI plus dan akselerasi dengan biaya yang sangat mahal. Setelah pulang sekolah, dia tunjukkan pamflet tadi kepada kedua orang tuanya. Dengan senyuman, orang tuanya menyetujui tentang cita-cita dia ke sekolah tujuannya itu. Beberapa hari kemudian dia mengetahui tentang kondisi keuangan keluarganya yang tentunya tidak memungkinkan untuk menyekolahkan dia di sekolah tujuannya tersebut. Tetapi, orang tuanya tidak memberitahu dia akan hal itu.
Melihat kejadian itu, Rama kembali berpikir ulang untuk bersekolah di sekolah pilihannya itu. Dia sangat takut membebani kedua orang tuanya. Akhirnya, beberapa hari kemudian tertempel sebuah pamflet tentang pendaftaran siswa baru tingkat sekolah menengah atas dari kabupaten seberang. Ya,sebuah pamflet dari sebuah sekolah faforit di bojonegoro yaitu SMAN 1 Bojonegoro. Akhirnya dia memutuskan untuk ikut seleksi penerimaan siswa baru di Bojonegoro. Beberapa hari setelah seleksi di bojonegoro, orang tuanya memberikan kabar jika kondisi keuangan keluarganya telah membaik. Dengan tujuan sekolah barunya tersebut, dia selalu berharap jika dia bisa menjadi salah satu siswa di sekolah tersebut. Waktu pengumunan hasil penerimaan siswa baru telah tiba. Rama yang diantar oleh ayahnya berangkat menuju sekolah tersebut untuk melihat hasil seleksi. Perasaan senang hinggap di hati seorang Rama Veryzha setelah namanya terpampang dengan status “Diterima”. Sebuah perjuangan yang menjadi sebuah kenyataan.
cerita pribadi iki koyok'e
BalasHapusHahaha . . emang zha!! ckckck. tak buat ngisi tugasnya pak jalil
BalasHapus\